Berita

SOLER, MUNEZ DAN AMBISI MENJADI GLEN FOYy

BALIKBANDUNG.COM, BANDUNG – Santiago Munez yang merupakan seorang pemain bola bertalenta harus berhadapan dengan kehidupan yang keras. Terlahir dari keluarga imigran hispanic yang tinggal di Los Angeles membuatnya berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan hidup sambil tetap menggenggam mimpinya.

Hanya bermain amatiran untuk klub lokal, ditambah dengan perdebatan dengan sang ayah yang melarangnya untuk menjadi pemain bola profesional membuat kesempatan untuk menggapai mimpinya semakin tenggelam.

Sampai pada suatu waktu, Glen Foy yang merupakan mantan pemain Newcastle United menyaksikan Munez bertanding dan melihat potensi yang dimilikinya.

Meski bukan seorang agen beneran, ia mengupayakan untuk memberikan seleksi di klub yang bermarkas di St. James Park. Bahkan tak sampai disitu, Foy meyakinkan pemilik klub untuk memberikan seleksi selama satu bulan agar Munez bisa menunjukan potensi secara maksimal.

Dan hasilnya, Munez mulai merajut karirnya sebagai pemain profesional dan bermain bagi tim yang identik dengan jersey garis hitam-putih. Mengawali karir hanya bermain bagi tim lokal di Amerika Serikat dan berujung pada debutnya di kasta teratas Liga Inggris.

Tanpa disadari disinilah peran Glen Foy yang terlihat sangat besar meski apa yang dilakukannya secara sederhana; hanya menawarkan dan merokemandasikan pemain kepada tim yang secara hubungan memiliki “ikatan”.

Sinopsis film Goal: The Dream Begins yang rilis pada tahun 2006 tersebut menampilkan banyak unsur menarik di dalamnya. Selain menampilkan bagaimana perjuangan seorang pemain untuk mendapatkan apa yang dimimpikan, Glen Foy merepresentasikan bagaimana peran seorang liaison ataupun perantara bagi sistem penawaran pemain terhadap tim.

*AMBISI MENJADI GLEN FOY

Terpisah jauh dari Inggris, hal tersebut sepertinya terjadi di tim sekelas Persib Bandung. Kebutuhan akan pemain untuk mengarungi liga sangatlah tinggi.

Bahkan dengan persiapan yang sangat lamban, ketersediaan pemain lokal yang secara rekam jejak telah teruji sangatlah menipis. Harapan besar untuk menambal pemain—yang musim lalu secara gamblang membuat Maung Bandung terseok-seok di posisi ke-13—menjadi kecil. Pemain bidikan yang berstatus punggawa timnas macam Lerby Eliandri ataupun Andik Vermansyah hilang begitu saja.

Lalu, muncullah Fernando Soler sebagai aktor utama. Entah yang mendatangkan pemain secara langsung atau tidak langsung, Soler memiliki tanggung jawab besar untuk bisa menilai pemain.

Layaknya Glen Foy, ia berperan besar dalam rekomendasi pemain yang melakukan seleksi di tim utama. Yang membedakan adalah bukan “Munez” yang didatangkan, melainkan pemain yang secara kualitas jauh dari standar untuk bermain bagi Persib Bandung.

Mari awali dengan pemain yang berhasil dikontrak oleh Persib Bandung. Eka Ramdani dan Airlangga merupakan pemain yang secara kualitas sudah teruji, tapi masanya sudah habis. Mereka bukanlah mereka saat masih berseragam Persib Bandung sebelumnya. Dengan umur yang melampaui 30 tahun, sulit untuk berharap banyak pada kedua pemain tersebut.

Berlanjut kepada Ardi Idrus dan Fisabilillah (Sabil) yang sama sekali belum pernah terbesit dipikiran bobotoh untuk merekrutnya. Keduanya merupakan mantan pemain di Liga 2 pada musim lalu. Idrus bermain bagi PSS Sleman sedangkan Sabil bermain bagi Persijap Jepara. Entah bisikan darimana kedua pemain tersebut dapat bergabung dengan tim utama.

Bahkan untuk pemain sekelas Ghozali Siregar pun, bobotoh masih bertanya-tanya. Pemain yang musim lalu berseragam PSM Makasar hanya menjadi pemeran pembantu di tim tersebut. Kalah bersaing dengan pemain macam Zulham Zamrun, Ridwan Tawainella ataupun Ferdinan Sinaga membuat ia terlempar dari tim. Melihat progres selama pra-musim sampai dengan liga berjalan, untuk mengisi pos sayap kiri rasanya Atep pun lebih berhak mendapatkannya.

Dan lelucon yang membuat Soler diragukan sosoknya oleh bobotoh adalah; kedatangan pemain seleksi yang jauh dari kata mencukupi. Kedatangan Patrich Wanggai, Bobby Satria serta Octavianus Maniani merupakan sebuah komedi. Meskipun sama-sama mejeng di kasta teratas liga Indonesia, karir keduanya justru tengah menurun. Dengan kondisi tersebut, wajar jika bobotoh secara lantang tidak menginginkan keduanya untuk masuk dalam tim utama.

Masih belum cukup disitu, mari membaca nama-nama berikut ini. Zaenal Muhammad, Ahmad Rajendra, serta Paul Yohanes Yukey merupakan nama-nama yang muncul di seleksi. Terasa asing, bukan? Kedatangan pemain tersebut semakin menunjukan ambisi yang semenjana. Tanpa mendiskreditkan para pemain diatas, pemain dari diklat ataupun Maung Anom lebih berhak untuk menempati posisi di tim utama ketimbang mencari kesana kemari mencari pemain.

Mungkin hanya Muchlis Hadi Ning yang secara potensi masih memiliki asa untuk melanjutkan kegemilangannya pada saat bermain bagi Timnas U-19. Umur yang terbilang masih muda serta segudang pengalaman yang dimiliki membuat pemain ini dapat dikatakan satu-satunya yang masuk akal dalam perekrutan pemain dibandingkan yang lainnya.

Meski bukan sepenuhnya menjadi kesalahan seorang Soler, ia berhak dimintai pertanggung-jawaban mengenai hal tersebut. Dengan pengalaman di persepakbolaan Indonesia, rasanya preferensi untuk memilih pemain menjadi lebih baik ketimbang Mario Gomez yang baru menginjakan karir kepelatihannya di Indonesia. Entah ada tabiat tersembunyi ataukah memang kemampuan dari sang asisten pelatih yang terbatas. Mari sama-sama untuk mengelus dada di musim ini.

****
Soler harus bangun dari mimpi dan menyadari kenyataan bahwa dirinya bukan ‘agen’ apalagi seorang Glen Foy. Tugasnya cukup menjadi asisten pelatih dan menjalankan perintah Mario Gomez sebagai pelatih kepala. Meski alasan kedatangan pemain untuk seleksi merupakan rencana dalam menambah kedalaman tim, tapi tak semua pemain bisa seenaknya mengikuti seleksi dengan mudah. Untuk ukuran tim sebesar Persib Bandung, hanya mengandalkan pemain ‘seadanya’ saja tidak cukup.

Intrik untuk menciptakan kembali seorang Santiago Munez di persepakbolaan Indonesia rasanya terlalu berat bagi asisten pelatih asal Argentina tersebut.

Soler harus kembali sadar bahwa; Santiago Munez hanyalah kisah fiktif dan Glen Foy merupakan bagian dari ilusi tersebut. (Reva Andriana)